Nama : Rizki Chandra Kaferi
Npm : 16512553
Kelas : 3PA06
TUGAS SOFTSKILL KE 3
C. Person centered
therapy (Rogers)
1. Konsep
Rogers berpendapat bahwa terapis
tidak boleh memaksakan tujuan-tujuan atau nilai-nilai yang dimilikinya kepada
pasien. Fokus dari terapi ini adalah pasien. Terapi adalah nondirektif, yakni
pasien dan bukan terapis memimpin atau mengarahkan jalannya terapi. Terapis memantulkan
perasaan-perasaan yang diungkapkan pasien untuk membantunya berhubungan dengan
perasaan-perasaannya yang lebih dalam dan bagian-bagian dari dirinya yang tidak
diakui karena tidak diterima oleh masyarakat. Terapis memantulkan kembali atau
menuraikan dengan kata-kata yang diungkapkan pasien tanpa memberi penilaian.
2. Unsur-unsur terapi
Diharapkan dapat membantu individu dalam menemukan
konsep dirinya sesuai dengan medan fenomenalnya, individu tidak lagi menolak
atau mendistorsi pengalaman – pengalaman sebagaimana adannya. Terbuka terhadap
pengalamannya, adanya kepercayaan terhadap organismenya sendiri, kehidupan
eksistensial yaitu sepenuhnya dalam setiap momen kehidupan, perasaan bebas dan
kreatif.
Fungsi
dan Peran Terapis :
1. Terapis dan klien berada dalam hubungan
psikologis
2. Terapis adalah benar – benar dirinnya sejati
dalam berhubungan dengan klien
3. Terapis merasa atau menunjukan unconditional
positive regard untuk klien
4.
Terapis menunjukkan rasa empati serta memahami tentang kerangka acuan klien dan
memberitahukan pemahamannya kepada klien
5.
Klien menyadari usaha terapis yang menunjukkan sikap empati berkomunikasi dan
menunjukkan unconditioning positive regard kepada klien
3. Teknik terapi
Client-centered
therapy menempatkan tanggungjawab tidak pada konselor tetapi pada klien. Maka
teknik-teknik konselingnya adalah sebagai berikut :
a)
Acceptance
(penerimaan)
b)
Respect (rasa
hormat)
c)
Understanding
(mengerti dan memahami)
d)
Reassurance
(menentramkan hati dan menyakinkan)
e)
Ecouragement
(dorongan)
f)
Limited
Questioning (pertanyaan terbatas)
g)
Reflection
(memantulkan pertanyaan dan perasaan)
D. Logoterapi (Frankl)
1. Konsep
a.
Makna Hidup (Meaning of Life) Makna
hidup adalah hal-hal yang dianggap sangat penting dan berharga serta memberikan
nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup terkait dengan alasan dan tujuan dari
kehidupan itu sendiri. Menurut Frankl (dalam Koeswara, 1992), makna hidup
bersifat objektif dan berada di luar diri manusia. Makna hidup bukanlah sesuatu
yang merupakan hasil dari pemikiran idealistik dan hasrat-hasrat atau naluri
dari manusia.
b.
Nilai-nilai Kreatif. Nilai-nilai kreatif
merupakan nilai-nilai yang didapat dengan cara beraktivitas secara langsung
terhadap suatu pekerjaan yang bisa membawa diri kita merasa bermakna. Pekerjaan
ini tidak hanya terbatas pada pekerjaan yang bersifat formal dan menghasilkan
uang, namun juga pekerjaan-pekerjan yang bersifat non-profit. Dalam sebuah
pekerjaan, Frankl menekankan bahwa apapun pekerjaan itu dapat memberikan makna
terhadap individu yang melakukannya.
c.
Nilai-nilai Penghayatan. Nilai-nilai
penghayatan merupakan suatu kegiatan menemukan makna dengan cara meyakini dan
menghayati sesuatu. Sesuatu ini dapat berupa kebenaran, kebajikan, keyakinan
agama, dan keimanan. Frankl percaya bahwa seseorang dapat menemukan makna
dengan menemui kebenaran, baik melalui keyakinan agama atau yang bersumber dari
filsafat hidup yang sekuler sekalipun. Keyakinan beragama merupakan salah satu
dari berbagai keyakinan yang dapat memberikan makna hidup.
d.
Nilai-nilai Bersikap. Nilai ini
merupakan sikap yang diambil terhadap sebuah penderitaan yang tidak dapat
dielakkan atau tak terhindarkan (inavoid moment). Hal ini bisa dalam bentuk
kematian seseorang yang dicintai, penyakit yang tak dapat disembuhkan atau
kecelakaan yang tragis. Dalam kehidupan sehari-hari mungkin hal ini sama halnya
dengan takdir yang dikenal dalam masyrakat kita. Sikap-sikap yang dikembangkan
dalam hal ini antara lain menerima dengan ketabahan, kesabaran, dan keberanian
segala bentuk penderitaan yang tidak dapat dielakkan.
e.
Dimensi Manusia dalam Logoterapi. Logoterapi
memandang manusia mempunyai dimensi spiritual, selain dimensi fisik dan dimensi
kejiwaan (Fabry, 1980). Dalam aliran-aliran psikologi seperti psikoanalisa dan
behavior, spiritualitas sangat diabaikan. Psikoanalisa hanya menekankan pada
aspek-aspek psikologis yang merupakan wujud dari tuntutan kebutuhan jasmani.
Sedangkan behavior menekankan aspek fisik atau perilaku yang tampak.
f.
Sindroma Ketidakbermaknaan Menurut
Frankl (dalam Koeswara, 1992), seseorang yang tidak menemukan makna hidup akan
mengalami sindroma ketidakbermaknaan (syndrom of meaninglessness). Sindroma ini
terdiri dari dua tahapan yaitu kevakuman eksistensi (existential vacum) dan
neurosis noogenik.
2. Unsur-unsur terapi
Munculnya Gangguan
Tujuan Terapi: Untuk
memahami adanya potensi dan sumber daya rohaniah yang secara universal ada pada
setiap orang terlepas dari ras, keyakinan dan agama yang dianutnya;
·
Untuk menyadari bahwa sumber-sumber dan
potensi itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan
·
Bertujuan memanfaatkan daya-daya
tersebut untuk bangkit kembali dari penderitaan untuk mampu tegak kokoh
menghadapi berbagai kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih
kualitas hidup yang lebih bermakna.
Peran Terapis
·
Menjaga hubungan yang akrab dan
pemisahan ilmiah
·
Mengendalikan filsafat pribadi
·
Terapis bukan guru atau pengkhotbah
·
Memberi makna lagi pada hidup
·
Memberi makna lagi pada penderita
·
Menekankan makna kerja
·
Menekankan makna cinta
3. Teknik terapi
a.
Intensi Paradoksikal , teknik intensi
paradoksikal merupakan teknik yang dikembangkan Frankl berdasarkan kasus
kecemasan antispatori, yaitu kecemasan yang ditimbulkan oleh antisipasi
individu atas suatu situasi atau gejala yang ditakutinya (Koeswara, 1992).
b.
Derefleksi merupakan teknik yang mencoba
untuk mengalihkan perhatian berlebihan ini pada suatu hal di luar individu yang
lebih positif. Derefleksi memanfaatkan kemampuan transendensi diri yang ada
pada manusia. Dengan teknik ini individu diusahakan untuk membebaskan diri dan
tak memperhatikan lagi kondisi yang tidak nyaman untuk kemudian lebih
mencurahkan perhatian kepada hal-hal lain yang positif dan bermanfaat. Dengan
berusaha mengabaikan keluahannya, kemudian mengalihkannya pada hal-hal yang
bermanfaat, gejala, kemudian mengalihkannya pada hal-hal yang bermanfaat,
gejala hyper intention akan menghilang (Bastaman, 2007). Pasien dengan teknik
ini diderefleksikan dari gangguan yang dialaminya kepada tugas tertentu dalam
hidupnya atau dengan perkataan lain dikonfrontasikan dengan makna.
c.
Bimbingan rohani adalah metode yang
khusus digunakan terhadap pada penanganan kasus dimana individu berada pada
penderitaan yang tidak dapat terhindarkan atau dalam suatu keadaan yang tidak
dapat dirubahnya dan tidak mampu lagi berbuat selain menghadapinya (Koeswara,
1992). Pada metode ini, individu
didorong untuk merealisasikan nilai bersikap dengan menunjukkan sikap positif
terhadap penderitaanya dalam rangka menemukan makna di balik penderitaan
tersebut.
Frankl.
Emil. 2004. On the theory and therapy of mental disorders: an introduction to
logotherapy and existential analysis.New York: Brunner-Routledge 270 Madison
Avenue.
https://books.google.co.id/books?id=ytvXAAAAMAAJ&dq=unsur+logoterapi&sitesec=reviews
Frankl.
Emil. 2004. On the theory and therapy of mental disorders: an introduction to
logotherapy and existential analysis. Brunner-Routledge 270 Madison Avenue. New
York.
http://adipsi.blogspot.com/2011/04/logoterapi.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar