Nama :
Rizki Chandra
Kelas :
3PA06
NPM :
16512553
1.
Perbedaan Konseling Dan Psikoterapi
a. Konseling
Secara
sederhana konseling adalah sebagai suatu proses pembelajaran yang seseorang itu
belajar tentang dirinya serta tentang hubungan dalam dirinya lalu menetukan
tingkah laku yang dapat memajukan perkembangan pribadinya. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa konseling ialah hubungan antara seorang konselor yang
terlatih dengan seorang klien atau lebih, bertujuan untuk membantu klien
memahami ruang hidupnya serta mempelajari untuk membuat keputusan sendiri
melalui pilihan- pilihan yang bermakna dan yang berasaskan informasi dan
melalui penyelesaian masalah- masalah yang berbentuk emosi dan masalah pribadi.
b. Psikoterapi
Psikoterapi adalah
suatu interaksi sistematis antara pasien dan terapis yang menggunakan prinsip –prinsip
psikologis untuk membantu menghasilkan perubahan dalam tingkah laku, pikiran
dan perasaan pasien supaya membantu pasien mengatasi tingkah laku abnormal dan
memecahkan masalah- masalah dalam hidup atau berkembang sebagai seorang
individu.
Dari
pengertian di atas dapat diambil kesimpulan perbedaan antara konseling dan
psikoterapi sebagai berikut:
- Konseling pada umumnya menangani orang normal, sedangkan psikoterapi terutama menangani orang yang mengalami ganguan psikologis.
- Konseling lebih edukatif, suportif, berorientasi sadar dan berjangka pendek, sedangkan psikoterapi lebih rekonstruktif, konfrontatif, berorientasi tak sadar, dan berjangka panjang.
- Psikoterapi mempunyai ciri-ciri, interaksi sistematis (verbal dan nonverbal), prinsip-prinsip psikologi, tingkah laku, pikiran dan perasaan serta tingkah laku abnormal.
- Konseling lebih terstruktur dan terarah pada tujuan yang terbatas dan konkret, sedangkan psikoterapi sengaja dibuat lebih ambigu dan memiliki tujuan yang berubah-ubah dan berkembang terus.
2.
Bentuk Utama Dalam Terapi
Psikoterapi menurut Phares
(1992) dapat dibedakan dalam beberapa aspek, yakni menurut taraf kedalamannya,
dan menurut tujuannya. Menurut kedalamannya dibedakan psikoterapi suportif,
psikoterapi reeducative, dan psikoterapi reconstruktive.
1. Terapi Supportive
Tujuannya
memperkuat perilaku penyesuaian diri klien yang sudah baik, memberi dukungan
psikologis, dan menghindari diri dari usaha untuk menggali apa yang ada dalam
alam bawah sadar . alasan penghindaran karena kalau di bongkar
ketidaksadarannya, klien ini kemungkinan akan menjadi lebih parah dalam
penyesuaian dirinya. Psikoterapi suportif biasanya dilakukan untuk memberikan
dukungan pada klien untuk tetap bertahan menghadapi kesulitannya. Contohnya
mengatasi trauma kekerasan dengan tujuan merubah prilaku yang biasanya
dilakukan.
2. Psikoterapi Reeducative
Psikoterapi
reeducative bertujuan untuk mengubah pikiran atau perasaan klien agar ia dapat
berfungsi lebih efektif. Di sini terapis tidak hanya memberi dukungan, tetapi
juga mengajak klien atau pasien untuk mengkaji ulang keyakinan klien, mendidik
kembali, agar ia dapat menyesuaikan diri lebih baik setelah mempunyai pemahaman
yang baru atas persoalannya. Terapis di sini tidak hanya membatasi diri
membahas kesadaran saja, namun juga tidak terlalu menggali ketidaksadaran.
Psikoterapi jenis redukatif ini biasanya terjadi dalam konseling.
3. Reconstructive
Bertujuan
untuk mengubah seluruh kepribadian pasien atau klien, dengan menggali
ketidaksadaran klien, menganalisis mekanisme defensif yang patologis, memberi
pemahaman akan adanya proses-proses tidak sadar, dan seterusnya. Psikoterapi
jenis ini berkaitan dengan pendekatan psikoanalisis dan biasanya langsung
intensif dalam waktu yang sangat lama. Pendekatan psikoanalisis dimaksudkan
menimbulkan pemahaman pada klien tentang masalah-masalahnya, kemudian mendobrak
untuk melakukan pemahaman selanjutnya dan meningkatkan pengendalian ego atas
desakan id dan superego.
Daftar Pustaka:
Slamet I.S. Suprapti & Sumarmo M. 2008. Pengantar
Psikologi Klinis. Jakarta : UI-Press.