Selasa, 28 April 2015

Nama   : Rizki Chandra Kaferi
Npm    : 16512553
Kelas   : 3PA06
TUGAS SOFTSKILL KE 3
A. Psikoanalisa
1.      Konsep
Psikoanalisis adalah suatu sistem dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku neurotik. Psikonalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan-dorongan ini sebagian di sadari dan sebagian lagi tidak disadari. Sebagaimana yang diketahui bahwa teori-teori yang dikemukakan oleh Freud banyak dilandasi oleh hal-hal yang biologis. Arlow (1989) mengatakan bahwa psikoanalisis adalah sistem dalam psikologi yang lengkap dan luas, meliputi pengalaman-pengalaman dunia dalam dan dunia luar. Dasar biologis dan peranan sosial seseorang yang kesemuanya berfungsi dalam kehiduan pribadi maupun kelompok.
Psikoanalisis sebagai teori dari psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang timbul karena tertahanya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada kaitanya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik dari pengalaman seksual pada masa kecil.
2.      Unsur-unsur terapi
Dari proses psikoanalisis yang berlangsung hal yang penting ialah masalah tranferens. Transferens dalam arti sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang. Pada saat seperti itu, pada saat pasien sedang menghubung-hubungkan hambatan yang dialami dengan konflik yang terjadi dibawah sadar mengenai harapan-harapan terhadap seseorang atau beberapa orang yang penting dalam hidupnya, gejala baru akan muncul an menimbulkan kesan bercampur-baur, antara lain karena kehadiran psikoanalisisnya. Inilah saat-saat kritis, karena pasien harus menghadapi hal-hal yang idealistis sesuai dengan yang diinginkan, namun ia harus menghadapi kenyataan sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi.
Memahami masalah transferens merupakan sesuatu yang penting dalam pelaksanaan psikoanalisis. Arlow 1989 (dalam Corsini, 1989) mengatakan bahwa psikoanalisis harus memahami bahwa dalam transferens pasien secera tidak sadar mengulang tindakan yang akan datang dari ingatan-ingatan masa anak yang terlupakan dan khayalan-khayalan yang tidak disadari  yang ditekan.


3.      Teknik terapi
a)      Asosiasi bebas : klien meninggalkan cara berfikir yang biasa-menyensor pikiran. Yang dilakukan adalah mengatakan apa yang muncul dalam pikiran, meskipun kelihatanya aneh, irasional menggelikan atau menyakitkan. Dengan acara ini Id diminta untuk berbicara, sedangkan ego tinggal diam.
b)      Analisis Mimpi : menurut Freud, mimpi adalah sarana untuk memahami yang tak disadari. Ia menyebutkan the royal road to the unconscious. Klien didorong untuk bermimpi dan mengingat-ingat mimpinya. Analisis harus menyadari manifest content (arti yang nyata atau kelihatan) dan latent (arti tersembunyi tapi sesungguhnya)
c)      Analisis tranferensi : transferens adalah respon klien kepada seorang konselor, seakan-akan konselor adalah orang signifikn didalam kehidupan klien yang lalu, biasanya tokoh orangtua. Analisis mendorong transferen ini dan menginteprestasikan perasaan-perasaan positif dan negatif yang diekspresikan. Pelepasan perasaan ini bersifat terapeutik, merupakan katarsis emosional.
d)     Analisis resistensi : kadang-kadang klien pada awalnya menunjukan kemajuan, tetapi kemudian melambat atau berhenti. Resistensi mereka mungkin mengambil berbagai bentuk, misalnya tidak datang pada perjanjian, menghalangi pikiran pada waktu melakukan asosiasi bebas, menolak mengingat mimpi dan lain-lain.
e)      Interpretasi : intrepestasi harus dianggap sebagai bagian dari teknik-teknik yang telah disebutkan di atas. Pada waktu melakukan interpretasi konselor membantu klien memahami arti peristiwa dari masalalu dan sekarang. Interpretasi menyangkut penjelasan dan analisis berbagai pikiran, perasaan dan tindakan klien. Konselor harus memilih waktu yang tepat untuk melakukan interpretasi.


B. Humanistik
1.      
Konsep
Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada kondisi manusia. Pendeketan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankannya pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Pendeketan eksistensial humanistic bukan suatu aliran terapi, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik. Pendeketan terapi eksistansial humanistic juga bukan menyangkut terapi-terapi yang berlainan yang kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
a. Kesadaran diri : manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri.
Suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
b. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan : Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab yag bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasan atas keterbatasan nya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.

2.      Unsur-unsur terapi
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Bugental (1965) mengatakan keotentikan sebagai “urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”, terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggung jawab untuk memilih.

3.      Teknik terapi
Analisis eksistensial dibangun atas teori-teori terapi pokok, yaitu teori proses terapiotik, terapi isi terapeutik dan teori relasasi terapeutik.
a.       Teori proses terapeutik
Analisis esistensial melihat ketidakotentikan sebagai sumber psikopatologi, maka dalam pandangan analisis eksistensial, keotentikan merupakan jalan keluar psikopatologi itu sekaligus tujuan ideal terapi. Proses untuk mencapai tujuan ideal yaitu proses peningkatan kesadaran. Terapis analisis eksistensial akan menggunakan setiap kesempatan untuk menjelaskan pilihan yang dihadapi dengan pasien dalam pertemuan terapi, yakni apakah itu pilihan yang menyangkut hal-hal yang akan disampingkan kepada terapis ataupun pilihan yang menyangkut kesinambungan untuk mendatangi pertemuan terapi.

b.      Terapi isi terapeutik
Analisis eksistensial mengambil teori yang relative komperensif tentang keberadaan yang mempermasalahkan individu pada tiga taraf fungsi personalnya. Ada-dalam-alam-nada-bagi-diri-sendiri berkisar pada fungsi intrapersonal. Ada-bersama-orang-lain adalah konsep mengenai fungsi intra personal sedangkan ada-dalam-dunia mencakup tetatpi lebih besar daripada relasasi individu dengan lingkungan yang mengacu pada fungsi sosial individu.
1)      Konflik-konflik intrapersonal
Dalam praktek para terapis menangani pasien secara individual dengan fokus pada konflik yang ada didalam diri individu. Konflik antara kecemesan eksistensial yang inheren pada keberadaan dengan ketidak jujuran yang digunakan individu sebagai pertahanan melawan kecemasan eksistensial.
2)      Konflik-konflik interpersonal
Aspek lain yang terdapat pada taraf interpersonal individu adalah seksualitas. Tetapi tidak seperti dalam psikoanalisa dalam analisis eksistensial seksualitas tidak dipermasalahkan.
3)      Konflik-konflik individu vs lingkungan
Eksistensial dan terapi analisis eksistensial menekankan bahwa dalam lingkungan untuk menjadi pribadi yang sehat atau otentik tidak berarti individu menjadi antisocial atau anti aturan, lebih berarti bahwa individu mengarahkan dirinya menjadi otonom.
4)      Konflik menuju pemenuhan diri
Individu mampu membuat makna hidup dan nilai-nilai maka individu bisa melaksanakan pemenuhan diri yang akan mengantarkan dirinya kepada tujuan hidup yang ideal, yang juga menjadi tujuan ideal terapi : keotentikan atau keberadaan yang otentik.
c.       Teori relasi terapeutik

Relasi diantara terapis dan pasiennya merupakan sumber proses perubahan sekalipun sumber isi terapeutik. Sebagai sumber proses perubahan artinya relasi terapeutik bisa menunjang proses perbaikan atau kesembuhan pasien, jika relasi terapeutik berwujud relasi aku-kamu dimana terapis memandang pasiesn sebagai subjek dan sebaliknya pasiesn siap tampil sebagai subjek yang terbuka terhadap terapis maupun terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bersedia meninggalkan ketidakjujuran atau mekanisme pertahanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar