Nama : Rizki Chandra Kaferi
Npm : 16512553
Kelas : 3PA06
TUGAS SOFTSKILL KE 3
A.
Psikoanalisa
1. Konsep
Psikoanalisis adalah suatu sistem
dalam psikologi yang berasal dari penemuan-penemuan Freud dan menjadi dasar
dalam teori psikologi yang berhubungan dengan gangguan kepribadian dan perilaku
neurotik. Psikonalisis memandang kejiwaan manusia sebagai ekspresi dari adanya
dorongan yang menimbulkan konflik. Dorongan-dorongan ini sebagian di sadari dan
sebagian lagi tidak disadari. Sebagaimana yang diketahui bahwa teori-teori yang
dikemukakan oleh Freud banyak dilandasi oleh hal-hal yang biologis. Arlow
(1989) mengatakan bahwa psikoanalisis adalah sistem dalam psikologi yang
lengkap dan luas, meliputi pengalaman-pengalaman dunia dalam dan dunia luar.
Dasar biologis dan peranan sosial seseorang yang kesemuanya berfungsi dalam
kehiduan pribadi maupun kelompok.
Psikoanalisis sebagai teori dari
psikoterapi berasal dari uraian Freud bahwa gejala neurotik pada seseorang
timbul karena tertahanya ketegangan emosi yang ada, ketegangan yang ada
kaitanya dengan ingatan yang ditekan, ingatan mengenai hal-hal yang traumatik
dari pengalaman seksual pada masa kecil.
2. Unsur-unsur terapi
Dari proses psikoanalisis yang
berlangsung hal yang penting ialah masalah tranferens. Transferens dalam arti
sebenarnya adalah suatu bentuk ingatan dari kejadian-kejadian yang telah
dialami dan yang diulang kembali dalam keadaan sekarang atau yang akan datang.
Pada saat seperti itu, pada saat pasien sedang menghubung-hubungkan hambatan
yang dialami dengan konflik yang terjadi dibawah sadar mengenai harapan-harapan
terhadap seseorang atau beberapa orang yang penting dalam hidupnya, gejala baru
akan muncul an menimbulkan kesan bercampur-baur, antara lain karena kehadiran
psikoanalisisnya. Inilah saat-saat kritis, karena pasien harus menghadapi
hal-hal yang idealistis sesuai dengan yang diinginkan, namun ia harus
menghadapi kenyataan sebagai sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi.
Memahami masalah transferens
merupakan sesuatu yang penting dalam pelaksanaan psikoanalisis. Arlow 1989
(dalam Corsini, 1989) mengatakan bahwa psikoanalisis harus memahami bahwa dalam
transferens pasien secera tidak sadar mengulang tindakan yang akan datang dari
ingatan-ingatan masa anak yang terlupakan dan khayalan-khayalan yang tidak
disadari yang ditekan.
3. Teknik terapi
a) Asosiasi bebas : klien meninggalkan cara berfikir
yang biasa-menyensor pikiran. Yang dilakukan adalah mengatakan apa yang muncul
dalam pikiran, meskipun kelihatanya aneh, irasional menggelikan atau menyakitkan.
Dengan acara ini Id diminta untuk berbicara, sedangkan ego tinggal diam.
b) Analisis Mimpi : menurut Freud, mimpi adalah sarana
untuk memahami yang tak disadari. Ia menyebutkan the royal road to the
unconscious. Klien didorong untuk bermimpi dan mengingat-ingat mimpinya.
Analisis harus menyadari manifest content (arti yang nyata atau kelihatan) dan
latent (arti tersembunyi tapi sesungguhnya)
c) Analisis tranferensi : transferens adalah respon
klien kepada seorang konselor, seakan-akan konselor adalah orang signifikn
didalam kehidupan klien yang lalu, biasanya tokoh orangtua. Analisis mendorong
transferen ini dan menginteprestasikan perasaan-perasaan positif dan negatif
yang diekspresikan. Pelepasan perasaan ini bersifat terapeutik, merupakan
katarsis emosional.
d) Analisis resistensi : kadang-kadang klien pada
awalnya menunjukan kemajuan, tetapi kemudian melambat atau berhenti. Resistensi
mereka mungkin mengambil berbagai bentuk, misalnya tidak datang pada
perjanjian, menghalangi pikiran pada waktu melakukan asosiasi bebas, menolak
mengingat mimpi dan lain-lain.
e) Interpretasi : intrepestasi harus dianggap sebagai
bagian dari teknik-teknik yang telah disebutkan di atas. Pada waktu melakukan
interpretasi konselor membantu klien memahami arti peristiwa dari masalalu dan
sekarang. Interpretasi menyangkut penjelasan dan analisis berbagai pikiran,
perasaan dan tindakan klien. Konselor harus memilih waktu yang tepat untuk
melakukan interpretasi.
B.
Humanistik
1.
Konsep
Psikologi eksistensial humanistic berfokus pada
kondisi manusia. Pendeketan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankannya
pada pemahaman atas manusia alih-alih suatu system teknik-teknik yang digunakan
untuk mempengaruhi klien. Pendeketan eksistensial humanistic bukan suatu aliran
terapi, bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik. Pendeketan terapi
eksistansial humanistic juga bukan menyangkut terapi-terapi yang berlainan yang
kesemuanya berlandaskan konsep-konsep dan asumsi-asumsi tentang manusia.
a. Kesadaran diri :
manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri.
Suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang
memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan.
b. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan :
Kesadaran atas kebebasan dan tanggung jawab yag bisa menimbulkan kecemasan yang
menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan eksistensial juga bisa
diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasan atas keterbatasan nya dan atas
kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati.
2. Unsur-unsur terapi
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami
keberadaan secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan
potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak
berdasarkan kemampuannya. Bugental (1965) mengatakan keotentikan sebagai
“urusan utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”, terdapat tiga
karakteristik dari keberadaan otentik (1) menyadari sepenuhnya keadaan
sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul
tanggung jawab untuk memilih.
3. Teknik terapi
Analisis
eksistensial dibangun atas teori-teori terapi pokok, yaitu teori proses
terapiotik, terapi isi terapeutik dan teori relasasi terapeutik.
a.
Teori proses terapeutik
Analisis
esistensial melihat ketidakotentikan sebagai sumber psikopatologi, maka dalam
pandangan analisis eksistensial, keotentikan merupakan jalan keluar
psikopatologi itu sekaligus tujuan ideal terapi. Proses untuk mencapai tujuan
ideal yaitu proses peningkatan kesadaran. Terapis analisis eksistensial akan
menggunakan setiap kesempatan untuk menjelaskan pilihan yang dihadapi dengan
pasien dalam pertemuan terapi, yakni apakah itu pilihan yang menyangkut hal-hal
yang akan disampingkan kepada terapis ataupun pilihan yang menyangkut
kesinambungan untuk mendatangi pertemuan terapi.
b.
Terapi isi terapeutik
Analisis
eksistensial mengambil teori yang relative komperensif tentang keberadaan yang
mempermasalahkan individu pada tiga taraf fungsi personalnya.
Ada-dalam-alam-nada-bagi-diri-sendiri berkisar pada fungsi intrapersonal.
Ada-bersama-orang-lain adalah konsep mengenai fungsi intra personal sedangkan
ada-dalam-dunia mencakup tetatpi lebih besar daripada relasasi individu dengan
lingkungan yang mengacu pada fungsi sosial individu.
1) Konflik-konflik
intrapersonal
Dalam praktek para terapis menangani
pasien secara individual dengan fokus pada konflik yang ada didalam diri
individu. Konflik antara kecemesan eksistensial yang inheren pada keberadaan
dengan ketidak jujuran yang digunakan individu sebagai pertahanan melawan
kecemasan eksistensial.
2) Konflik-konflik
interpersonal
Aspek lain yang terdapat pada taraf
interpersonal individu adalah seksualitas. Tetapi tidak seperti dalam
psikoanalisa dalam analisis eksistensial seksualitas tidak dipermasalahkan.
3) Konflik-konflik
individu vs lingkungan
Eksistensial dan terapi analisis
eksistensial menekankan bahwa dalam lingkungan untuk menjadi pribadi yang sehat
atau otentik tidak berarti individu menjadi antisocial atau anti aturan, lebih
berarti bahwa individu mengarahkan dirinya menjadi otonom.
4) Konflik
menuju pemenuhan diri
Individu mampu membuat makna hidup dan
nilai-nilai maka individu bisa melaksanakan pemenuhan diri yang akan
mengantarkan dirinya kepada tujuan hidup yang ideal, yang juga menjadi tujuan
ideal terapi : keotentikan atau keberadaan yang otentik.
c.
Teori relasi terapeutik
Relasi
diantara terapis dan pasiennya merupakan sumber proses perubahan sekalipun
sumber isi terapeutik. Sebagai sumber proses perubahan artinya relasi
terapeutik bisa menunjang proses perbaikan atau kesembuhan pasien, jika relasi
terapeutik berwujud relasi aku-kamu dimana terapis memandang pasiesn sebagai
subjek dan sebaliknya pasiesn siap tampil sebagai subjek yang terbuka terhadap
terapis maupun terhadap dirinya sendiri, yang berarti dia bersedia meninggalkan
ketidakjujuran atau mekanisme pertahanan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar