Nama : Rizki Chandra Kaferi
Kelas : 3PA06
NPM : 16512553
Tugas Softskill Psikoterapi
TERAPI
PERILAKU (Behavior Therapy)
1.
PENGERTIAN :
Menurut
Masters, et al (1987) ada beberapa paham dasar pada terapi perilaku, yakni : Dihubungkan
dengan psikoterapi, terapi perilaku secara relative lebih memusatkan pada
perilaku itu sendiri dan kurang memperhatikan faktor penyebab yang
mendasarinya. Khususnya psikoanalisis yang bertumpu pada keyakinan bahwa gejala
yang muncul atau terlihat harus dihilangkan dengan menghilangkan sumber
penyebabnya, akarnya.
Terapi
perilaku adalah penerapan aneka ragam teknik dan prosedur yang berakar pada
berbagai teori tentang belajar. Terapi ini menyertakan penerapan yang
sistematis prinsip-prinsip belajar pada pengubahan tingkah laku ke arah cara-cara
yang lebih adaptif. Berlandaskan teori belajar, modifikasi tingkah laku dan
terapi tingkah laku adalah pendekatan-pendekatan terhadap konseling dan
psikoterapi yang berurusan dengan pengubahan tingkah laku. Pada dasarrnya,
terapi tingkah laku diarahkan pada tujuan-tujuan memperoleh tingkah laku baru,
pengapusan tingkah laku yang maladaptif, serta memperkuat dan mempertahankan
tingkah laku yang diinginkan.
Terapi
perilaku (Behaviour therapy, behavior modification) adalah pendekatan untuk
psikoterapi yang didasari oleh Teori Belajar (learning theory) yang bertujuan
untuk menyembuhkan psikopatologi seperti; depression, anxiety disorders,
phobias, dengan memakai tehnik yang didisain menguatkan kembali perilaku yang
diinginkan dan menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan.
Terapi
perilaku menentukan dan merumuskan tujuan khusus terapi. Meskipun tidak
mengubah kepribadian secara keseluruhan, tetapi dengan menghilangkan
respon-respon yang malasuai (sebagai sumbernya), diharapkan akan mempengaruhi
pribadinya sebagai keseluruhan (totalitas).
Terapi
perilaku menolak teori klasik mengenai aspek dasar kepribadian (trait theory).
Sebagaimana diketahui bahwa aspek dasar kepribadian adalah predisposisi untuk
melakukan sesutau perilaku secara sama pada macam-macam situasi. Ada pengaruh
dari situasi sebagai sumber perangsangan (stimulus) yang mempengaruhi jawaban
secara berbeda pula.
Terapis
perilaku menyesuaikan metode terapinya dengan masalah yang ada pada klien dalam
terapi perilaku tidak lagi berlaku konsep metode tunggal dalam menghadapi
persoalan yang dialami pasien. Sebaliknya prosedur pelaksanaan terapi perlu
disesuaikan dengan persoalan yang ada dan kondisi khusus pribadinya.
Terapi
perilaku memusatkan pada keadaan sekarang dari sudut pendekatan psikodinamok
yang menitik beratkan terjadinya pemahaman terhadap kejadian-kejadian yang
sudah lewat diyakininya akan mempunyai efek terapeutik.
Terapis
perilaku menilai hasil-hasil yang diperoleh secara empirik, merupakan dukungan
yang besar dalam mempergunakan macam-macam teknik. Meskipun hasil objektif
melalui penelitian-penelitian, namun ada tingkatan-tingkatan misalnya: pada
kemantapan metodologi yang dipakai, sehingga kuantifikasi saja, tidak selalu
menjamin akan adanya metodologi yang mantap yang menghasilkan sesuatu hasil
penelitian.
2.
UNSUR-UNSUR TERAPI PERILAKU :
a.
Sistematis Desensitisasi, adalah jenis
terapi perilaku yang digunakan dalam bidang psikologi untuk membantu secara
efektif mengatasi fobia dan gangguan kecemasan lainnya. Lebih khusus lagi,
adalah jenis terapi Pavlov/terapi operant conditioning therapy yang
dikembangkan oleh psikiater Afrika Selatan, Joseph Wolpe. Dalam metode ini,
pertama-tama klien diajarkan keterampilan relaksasi untuk mengontrol rasa takut
dan kecemasan untuk fobia spesifik. Klien dianjurkan menggunakannya untuk
bereaksi terhadap situasi dan kondisi sedang ketakutan. Tujuan dari proses ini
adalah bahwa seorang individu akan belajar untuk menghadapi dan mengatasi
phobianya, yang kemudian mampu mengatasi rasa takut dalam phobianya. Fobia
spesifik merupakan salah satu gangguan mental yang menggunakan proses
desensitisasi sistematis.
b.
Exposure and Response Prevention
(ERP), untuk berbagai gangguan
kecemasan, terutama gangguan Obsessive Compulsive. Metode ini berhasil bila
efek terapeutik yang dicapai ketika subjek menghadapi respons dan menghentikan
pelarian. Metodenya dengan memaparkan pasien pada situasi dengan harapan muncul
kemampuan menghadapi respon (coping) yang akan mengurangi mengurangi tingkat
kecemasannya. Sehingga pasien bisa
belajar dengan menciptakan coping strategy terhadap keadaan yang bisa
menyebabkan kecemasan perasaan dan pikiran. Coping strategy ini dipakai untuk
mengontrol situasi, diri sendiri dan yang lainnya untuk mencegah timbulnya
kecemasan.
c.
Modifikasi perilaku, menggunakan teknik
perubahan perilaku yang empiris untuk memperbaiki perilaku, seperti mengubah
perilaku individu dan reaksi terhadap rangsangan melalui penguatan positif dan
negatif. Penggunaan pertama istilah modifikasi perilaku nampaknya oleh Edward
Thorndike pada tahun 1911. Penelitian awal tahun 1940-an dan 1950-an istilah
ini digunakan oleh kelompok penelitian Joseph Wolpe, teknik ini digunakan untuk
meningkatkan perilaku adaptif melalui reinforcement dan menurunkan perilaku
maladaptive melalui hukuman (dengan penekanan pada sebab). Salah satu cara
untuk memberikan dukungan positif dalam modifikasi perilaku dalam memberikan
pujian, persetujuan, dorongan, dan penegasan; rasio lima pujian untuk setiap
satu keluhan yang umumnya dipandang sebagai efektif dalam mengubah perilaku
dalam cara yang dikehendaki dan bahkan menghasilkan kombinasi stabil.
d.
Flooding, adalah teknik psikoterapi yang
digunakan untuk mengobati fobia. Ini bekerja dengan mengekspos pasien pada
keadaan yang menakutkan mereka. Misalnya
ketakutan pada laba laba (arachnophobia ),
pasien kemudian dikurung bersama sejumlah laba laba sampai akhirnya
sadar bahwa tidak ada yang terjadi. Hal ini diciptakan oleh psikolog Thomas
Stampfl pada tahun 1967. Flooding adalah bentuk pengobatan yang efektif untuk
fobia antara lain psychopathologies. Bekerja pada prinsip-prinsip pengkondisian
klasik-bentuk pengkondisian Pavlov klasik-di mana pasien mengubah perilaku
mereka untuk menghindari rangsangan negatif.
3.
TEKNIK-TEKNIK TERAPI PERILAKU :
a.
Mencari stimulus yang bisa memicu gejala.
b.
Menganalisa kaitan-kaitan bagaimana
gejala-gejala menyebabkan perubahan tingkah laku klien dari keadaan normal
sebelumnya.
c.
Meminta klien untuk membayangkan secara
jelas dan menjabarkannya tanpa disertai celaan atau judgement oleh terapis.
d.
Bergerak mendekati pada ketakutan yang
paling ditakuti yang dialami klien dan meminta kepadanya untuk membayangkan apa
yang paling ingin dihindarinya.
e.
Mengulangi lagi prosedur di atas sampai
kecemasan tidak lagi muncul dalam diri klien.
Referensi :
Corey, G. Teori dan
praktek konseling dan psikoterapi. Terjemahan : E. Koeswara. Bandung : PT.
Eresco
Tidak ada komentar:
Posting Komentar